Friday, August 28, 2009

Serius dan Tak Serius

Bingung dan Tidak Bingung
Sadar dan Tidak Sadar
Waras dan Gila

Ah kok ga nyambung. Serius dong jangan bercanda, katanya mau bantuin.
Lanjutkan jangan berhenti.
Di depanku kau membelakangiku.
Di tangan kananku ada madu, di tangan kiriku ada racun.

Tak Serius 1:

Andi, Agus, Arif dan Ahmad hendak bermain bola, tapi bolanya tidak ada. Andi, Agus, Arif lalu iuran seribuan. Sedang Ahmad yang tidak punya uang ditugasi membeli bola di toko 'Maskot'. Setelah bola didapat ternyata harganya cuma 2.500,- Ahmadpun mengembalikan uang itu pada teman-temannya.

Sebagai imbalan terima kasih Ahmad diberi 200 dan sisanya dibagi rata seratusan ke Andi, Agus, dan Arif.

Waktu selesai main bola mereka menghitung ulang uang tadi.

Ternyata ketiga anak itu iuran cuma 900-an. Dan jika dijumlahkan 2700 dan ditambah 200 punya Ahmad jadi 2900.
Lho kok bukan 3000 yang 100 ke mana?

Serius 1:
Pagi kakinya 4, siang kakinya 2, sore kakinya 3, apa ya?

Tak Serius 2:
Yang kecil di elus-elus, yang besar diinjek-injek. Coba tebak?
Selanjutnya yang besar dielus-elus, yang kecil diinjek-injek, kira-kira apa wong tunjung?

Serius 2:
Guru SD Andi bertanya coba sebutkan nama hewan dan berapa huruf penyusunnya?
Andi tunjuk jari lalu menjawab macan, 4 huruf. 'Bagus',jawab gurunya. Lalu binatang apa yang terdìri dari satu huruf?

Ini mau bikin puisi apa prosa apa syair apa tebak-tebakkan, sih?

Aku sedang tak serius tapi juga tak bercanda.

Ini hanya melengkapi untuk kekurangan bukan kelebihan dari one posting per day.



Silakan bagi sahabat yang mau dan bisa menjawab kebingungan teman-teman tak bermusuhan di atas dan pertanyaan yang lainnya. Bagi mereka sulit tapi bagi sahabat kayaknya mudah.

Hari ini kita tebak-tebakan aja ya. Ceritanya lain waktu saja, belum ada ide dasir, beda sama sang cerpenis bercerita yang tiap hari ada aja cerita.


MONGGOOOO...PIISS..Salam persahabatan dan persaudaraan..

Thursday, August 27, 2009

Pasir dan Batu

Ini adalah Sebuah cerita yang pernah dasir baca dari sebuah buku tapi dasir dan wong tunjung lupa judul bukunya...begini ceritanya..

Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang yang ada hanya pasir yang membentang. Jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan menunduk.Tiba-tiba badai datang.



Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir betebaran di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu.

"Ah.., tamatlah riwayat kita," kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. "Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini."

Kawannya, si pengembara duapun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan.

"Kita selamat," seru salah seorang diantara mereka.
"Lihat, ada air di sana."

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuasnya dan mengisi kantong air.

Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. "Kami bahagia. Kami dapat melantjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini."

Pengembara kedua heran.
"Mengapa kini kau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir."

Yang ditanya tersenyum.
"Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus," jawabnya dengan bahasa cukup puitis.

"Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan."

Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahatpun telah cukup, kini saatnya melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

Bagaiman dengan kita dalam menyikapi setiap permasalahan...salam hangat dan ukhuwah dari dasir dan wong tunjung semua...

Etika Lelungan

Pernah bepergian? Atau pernah melakukan perjalanan jauh seperti ke gunung, tempat wisata, pulang kampung, naik haji, umroh atau studi tour atau yang lainnya? Semua orang dasir rasa pernah melakukan perjalanan jauh kecuali masìh bayì, cacat fisik ataupun cacat mental. Yang bayi ataupun cacat kadang mengalahkan orang dewasa maupun yang sehat dalam melakukan perjalanannya. Tapi dasir tidak akan membahas bayi atau cacat, dasir hanya ingin berbagi ilmu yang dasir dapatkan tentang adab atau etika bepergian. Yang dalam Islam disebut SAFAR. Sebenarnya sama saja maknanya, karena safar dalam bahasa Arab yang dalam bahasa Wong tunjung artinya Lelungan atau Bepergian.

BerikutAdab-adab Safar/Etika Lelungan:

1. Melaksanakan sholat istikharah
2. Mengharap ridlo Alloh SWT
3. Bekal ilmu syar'i
4. Bertaubat
5. Bekal yang halal
6. Menulis wasiat
7. Pesan takwa
8. Mencari teman perjalanan yang baik
9. Berpamitan
10. Berangkat pada hari kamis
11. Berdoa ketika keluar dari rumah
12. Membaca doa safar
13. Mencari teman perjalanan
14. Mengangkat ketua rombongan
15. Berkumpul ketika singgah
16. Doa ketika singgah di suatu tempat
17. Bertakbir apabila melewati jalan menaik
18. Doa ketika memasuki suatu perkampungan
19. Berangkat pada awal malam
20. Doa ketika melihat fajar
21. Rajin berdoa ketika dalam bepergian
22. Amar ma'ruf nahi munkar
23. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan
24. Melaksanakan semua kewajiban
25. Berakhlak mulia
26. Suka menolong
27. Segera kembali setelah urusan selesai
28. Doa ketika pulang
29. Doa ketika melihat kampung halaman
30. Tidak langsung masuk rumahnya pada malam hari
31. Melaksanakan sholat dua rakaat
32. Bercengkerama dengan anak-anak
33. Membawa oleh-oleh
34. Anjuran untuk berpelukan
35. Mengadakan perjamuan
36. Tidak membawa genta, seruling dan anjing
37. Mengajak istri dengan undian.
Yang ini khusus untuk yang berpoligami.
Yang masih lajang kayak dasir ga berlaku adab yang terakhir..hehehe

Cukup dulu artikel ini semoga bermanfaat bagi dasir dan wong tunjung khususnya dan sahabat sekalian pada umumnya..assalamu'alaikum..

Disarikan dari Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani dalam 'Shalatul Musafir Mafhum wa Anwa' wa Adab wa Darajat wa Ahkam fi Dhau'ik Kitab was Sunah'

Related Post

Related Posts with Thumbnails