Tuesday, July 28, 2009

Mutiara di Ujung Pelupuk Mata

Sesampainya di rumah mulailah ia berpikir dengan lebih matang. Dihitung-hitungnya mulai dari pos modal pembelian kedelai, tabungan di bank, pengeluaran makan sehari-hari, biaya operasional pembuatan tempe seperti plastik, minyak tanah untuk merebus, ragi, transportasi atau uang bensin, uang untuk orang tua, biaya pengobatan selama sebulan, upah karyawan, kontrak rumah, mudik setiap bulan ke Pemalang, dan biaya-biaya yang lain. Setelah dihitung masak-masak akhirnya ia mulai memutuskan untuk mengurangi pos-pos yang kurang penting seperti mudik ke Pemalang setiap bulan ia rubah ke Iedul Fithri saja. Ia juga meminta maaf pada orang tuanya karena

tak bisa mengirimkan uang setiap bulan lagi dengan kondisi seperti itu dan memohon doanya supaya kandungan istrinya sehat dan tidak terjadi apa-apa hingga melahirkan dengan selamat serta mohon doanya agar diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan dan ujian ini dan juga dagangannya laris manis tanjung kimpul (dagangan habis duit kumpul). Ayahnya di Pemalang pun mengerti keadaan anaknya itu. Ia berjanji akan mendoakan Qorob dan istrinya, Ainah. Senin dan kamis ia rencanakan untuk puasa meskipun harus bercapek ria. Yang jadi masalah adalah saat pemeriksaan karena pada jam 9 pagi dagangannya belum habis. Untuk itu ia pasrahkan dagangannya pada Simbok di Pasar meskipun dengan perjanjian ada upah bagi Simbok jika dagangannya laris. Semua dilakukan dengan harapan Si jabang bayi selalu dalam keadaan sehat begitu juga ibunya yang sering sakit-sakitan.
“Maaasss, tolooooonnnng.....tolong akuuuu.....!!!!!”
Jam 10 malam hari rabu Ainah berteriak. Ia terjatuh di lantai toilet ketika hendak buang air kecil.
“Ya Allah.. Ya Rabbi.. cobaan apalagi ini Ya Allah?” teriak Qorob kaget ketika melihat istrinya Ainah terduduk di lantai WC.
“Ayo Dik bangun pelan-pelan!” pinta Qorob.
“Sakit Mas, pinggangku sakit.....aku tak bisa berdiri...!” jawab Ainah.
“Allahu Akbar....!” teriak Qorob sambil menahan air matanya yang mau jatuh dari sudut matanya.
Dibopongnya Ainah ke tempat tidur untuk direbahkan setelah sebelumnya dibasuh dengan air bersih. Dipanggilnya dokter terdekat untuk memeriksa Ainah. Begitu dokter datang ia diminta langsung ke kamar oleh Qorob untuk memeriksa Ainah beserta kandungannya. Selang 10 menit dokter keluar dari kamar.
“Pak, istri bapak tidak apa-apa hanya pinggangnya keseleo.”
“Kandungan istri saya bagaimana Dok?” tanya Qorob.
“Kandungan Bu Ainah alhamdulillah tidak apa-apa, syukur tidak terjadi keguguran. Mungkin waktu terjatuh benturannya tidak keras. Dan kelihatannya kandungan Bu Ainah lemah ya Pak, sebenar-nya usia kehamilannya sudah berapa bulan Pak?” tanya dokter wanita yang bernama Az Zahra. “Tiga bulan, Dok! Kandungannya memang lemah kata Dokter Pandopotan Batubara. Bahkan kami harus memeriksakannya setiap minggu 2 kali yaitu setiap hari senin dan hari rabu.” jawab Qorob
“Berarti tadi siang baru periksa dong?”
“Betul dok, dan obatnya juga baru tadi sebelum istirahat diminum istri saya.”
“Alhamdulillah mungkin obatnya telah bereaksi sehingga sewaktu terjatuh kandungan Bu Ainah bi-sa dikatakan dalam keadaan kuat, sehingga terselamatkan dari keguguran.”
“Mungkin, Dok. Oh ya berapa dok biayanya?”
“Rp 50.000,- Pak!”
“Ini Dok! Terima kasih dok, maaf telah mengganggu istirahat Dokter!”
“Terima kasih juga, ah tidak apa-apa. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melaksanakan tugas melayani pasien dan sebagai hamba Allah untuk saling tolong-menolong, bukan begitu Pak?”
“Betul dok!”
“Ya sudah Pak Qorob saya pamit dulu karena hari telah larut, nanti kalau mau diurut omongin tukang urutnya supaya hati-hati. Sabar ya Pak, aku doakan semoga Bu Ainah lekas sembuh dan diberikan kesehatan hingga melahirkan. Amin.”
“Mari Pak.....! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.....”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh....”
“Ya Allah berikan kekuatan dan kesabaran pada hati hambamu ini dalam menghadapi segala ujian yang Engkau datangkan pada kami. Sesungguhnya Engkau telah berjanji bahwa Engkau hanya akan menguji hamba sesuai dengan kemampuan hamba,” lirihnya dalam hati Qorob. Istrinya telah tertidur pulas. Ia sendiri coba merebahkan badannya di samping istrinya, ia ingin istirahat dulu sebelum nanti jam 2 pagi bangun untuk menusuk-nusuk tempe yang hampir jadi dan hampir penuh oleh jamur agar tak berkeringat. Jam 2 ia bangun setelah mendengar alarm berdering. Sambil mengucek-ngucek mata ia menusuk tempe satu per satu hingga kelar pukul 3 pagi. Ia kembali ke tempat tidur untuk istirahat. Begitu jam 5 ia bangun, setelah sholat subuh ia dibantu seorang karyawannya menata tempe ke dalam keranjang yang akan diantar ke pasar. Sekarang kesibukannya bertambah dari biasanya. Ia kembali ke masa bujangan, di mana ia harus mencuci baju sendiri karena Ainah belum bisa banyak bergerak. Sebelum berangkat berdagang ia menanak nasi terlebih dahulu sedang lauknya ia beli di warung sebelah. Pukul 05.30 wib ia berangkat ke pasar mengantarkan tempe pesanan yang tadi ditata kepada Simbok. Setelah itu ia langsung balik, kurang lebih jam 06.30 ia sampai di rumah. Tempe yang lain telah ditata ke dalam karung untuk diedarkan sendiri oleh Qorob ke perkampungan dan warung-warung di Prembun dan Kuto-winangun.

2 comments:

  1. @suwung matrnwn kang mpun dolan mriki
    @kopral cepot nuhun atu kang urang sendiri krg tahu kmrn arkasala jg gt,mhn bantuannya.ini komenya akang malah g bs dipublikasikan.aku agak gaptek jd mhn dimaklumi..
    Ngatur komen biar teratur gmn ya kang?

    ReplyDelete

Sahabat katakan sesuatu untuk dasir..perkataanmu kan memotivasiku untuk terus berkarya...

Related Post

Related Posts with Thumbnails