Saturday, June 20, 2009

Sepeda Jengki

Pedal 1
Desa kecilku


Suasana kedamaian dan asri tanpa asap polusi masih bisa dirasakan. Udara yang masih terasa bersihnya selalu menjadi asupan oksigen bagi warga desa kecil yang berada di perbatasan 3 kecamatan. Kecamatan Sragi di sebelah barat, kecamatan Bojong di sebelah selatan dan kecamatan Wiradesa di sebelah timur sedang di utara dibatasi oleh rel kereta api yang daerah seberangnya masuk wilayah Sragi dan Wiradesa. Semua kecamatan tersebut termasuk dalam Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, pulau Jawa, Negara Indonesia, Regional Asia Tenggara, Benua Asia, Dunia / Bumi, Galaksi Bima Sakti, Alam Semesta.

Desa mini ini yang namanya diambil dari nama sebuah bunga berpenduduk kurang lebih 1500 jiwa. Dengan agama Islam menjadi agama yang dianut hampir seluruh warganya. Tak ada agama lain di desa ini. Dan sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani. Walaupun ada yang berprofesi sebagai pedagang, guru, dokter dan penjahit. Padi masih menjadi idola tanaman di sawah. Dengan sebagian penduduk yang berpenghasilan dari padi maka di desa ini dibangunlah Pabrik Penggilingan Padi oleh seorang yang beruang. Beliau adalah H.Baedlowi. Meskipun sebenarnya pabrik tersebut posisinya ada di wilayah Sembung Jambu, Bojong.

Namun sekarang keadaan begitu memprihatinkan. Hampir semua remaja dan pemudanya merantau ke kota dan ke negeri orang. Sebagian memang sudah lulus SMA tapi tak sedikit yang baru lulus SD sudah merantau. Sehingga ketika kita datang ke Tunjungsari tidak pada Hari Raya kita tak akan menemui banyak remaja dan pemuda di sana. Yang ada hanyalah nenek-nenek dan janda-janda muda. Janda karena mereka banyak yang di tinggal suaminya ke kota walaupun sebenarnya mereka belum bercerai tapi ada juga yang memang janda betulan bukan bohongan. Padahal untuk merantau tidaklah segampang yang dibayangkan. Pendidikan sangatlah penting untuk mengarungi derasnya arus kehidupan kota. Apalagi pendidikan agama. Jika pendidikan agama kita dangkal atau iman kita tak tebal kita bisa terbawa arus yang menyeret kita ke dalam lumpur kehinaan dan lembah kegelapan serta kemaksiatan. Godaan kehidupan kota yang begitu materialistis, hedonis, apatis, dan individualis sanggup merubah seorang yanng tadi paginya Mukmin dan Muslim sorenya berubah menjadi Kafir dan murtad. Yang tadi siang adalah saudara, malamnya bisa menjadi musuh. Kalau malamnya adalah kawan siangnya bisa menjadi lawan.

Keadaan sekarang juga memprihatinkan. Remaja Tunjungsari yang dulu dikenal santri hingga jika ada teman mereka yang mau main jadi malu karena merokok dan tidak pakai kerudung. Kini remaja Tunjungsari sendirilah yang tanpa malu-malu lagi mengum-bar aurat mereka sendiri. Rambut terurai tanpa penghalang kerudung menjadi pemandangan yang bisa dikatakan lumrah sekarang. Atau bahkan memakai pakaian seperti LEPET yang begitu ketat sekarang menjadi tren mode. Padahal dengan gelar sebagai desa dengan semua penduduknya MUSLIM seharusnya pemandangan seperti itu tak pernah terlihat di desa ini. Namun kenyataan bercerita lain. Remaja muslim seolah dengan sukarela menyerahkan harga diri pakaian dan aqidah keislamannya kepada budaya barat yang begitu rendah. Sekali lagi begitu rendah. Semua budaya barat diembatnya mentah-mentah tanpa berpikir panjang. Idola mereka bukan lagi Nabi Muhammad ataupun para sahabat. Idola mereka sekarang adalah Delon, Rossa, Britney Spears, Madonna, Michael Jackson, BackstreetBoys, Ronaldinho, Agnes Monica, atau bahkan Inul daratista yang oleh seseorang diplesetkan namanya menjadi Inul Darah SETAN. Bolehlah mereka dijadikan idola khususnya dalam semangat berkreasi dan bekerja. Tapi kalau yang ditiru yang buruk-buruknya bagaimana? Sungguh miris hati ini. Kalau orang seperti aku saja miris bagaimana dengan para orang tua. Kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Budaya merokok bagi laki-laki seolah menjadi wajib. Kalau seorang aktivis organisasi saja merokok bagaimana dengan yang bukan aktivis. Atau kalau seorang ulama saja merokok bagaimana dengan umatnya. Padahal akibat dari merokok telah dicantumkan di bungkusnya. Mulai dari impotensi yang merupakan monster bagi seorang lelaki, serangan jantung, kanker hingga gangguan kehamilan dan janin. Namun produk olahan dari daun hijau yang cantik itu begitu memesona bagi remaja khususnya laki-laki. Katanya kalau tidak merokok banci & tidak gaul. Padahal itu hanyalah hasutan dari setan yang selalu mengajak manusia pada kehancuran. Dan bisa dibuktikan tanpa rokokpun seseorang bisa berprestasi dan tetep punya teman banyak yang berarti pergaulannya luas, iya kan! Ada lagi mitos bahwa merokok adalah hak asasi manusia dan jika mereka dilarang berarti yang melarang seseorang merokok maka ia telah melanggar HAM seseorang. Padahal yang merokoklah yang melanggar HAM orang yang tidak merokok untuk menghirup udara yang bersih dan tidak beracun (Republika, 5/9/07).

Wilayah desa ini termasuk dalam kawasan Kecamatan Sragi. Namun tahun 2004, bulan September Sragi dimekarkan menjadi 2 Kecamatan; Kec.Sragi di sebelah selatan dan Kec.Siwalan untuk bagian utara. Desa Tunjungsari kini masuk ke dalam Kec.Siwalan. Dengan Rukun Tangga (RT) sebanyak 17 dan Rukun Warga (RW) sebanyak 4. Desa ini juga dibagi menjadi beberapa dukuh. Dukuh Kauman, Dukuh Tunjung, Dukuh Klanyah, dan Dukuh gempol. Masing-masing dukuh merupakan nama lain dari Rukun Warga. Desa yang letaknya tidak dekat pantai juga tidak di pegunungan ini dipimpin seorang lurah/kepala desa yang dipilih setiap 5 tahun sekali melalui pemilihan secara langsung yang acara pemilihan tersebut kami menyebutnya dengan ‘KODRAH LURAH’. Seorang kepala desa tidaklah digaji. Tapi ia mendapatkan sebuah sawah sepetak yang lebar yang kami sebut dengan ‘BENGKOK’. Cara bacanya bukan bengkok yang berarti melengkung tapi kata ‘BE’ di sini dibaca seperti kita mengucapkan ‘SE’ pada kata ‘SEDIH’.

Pemerintah desa menyediakan sarana dan prasarana. Dalam bidang pemerintahan sebuah Balai Desa terletak di tengah jantung desa yaitu di RT 07 RW 02. Bangunannya khas Jawa Tengah berbentuk ‘joglo’. Dalam bidang kesehatan di desa ini terdapat sebuah PUSKESMAS dengan sepasang suami-istri yang menjadi dokter di sana. Mereka berasal dari Semarang. Tanah pemakaman di desaku ada 4 tempat, 2 di Kauman, 1 di Tunjung, dan 1 lagi di Klanyah. Dalam urusan irigasi air terdapat sebuah sungai besar di bagian barat yang lebarnya ± 25 meter dengan dalam ± 3 meter.

Lalu ada sungai keci di sebelah timurnya yang dipisahkan oleh tanggul tanah alami (kami menyebutnya benteng) yang tingginya sekitar 3 meter juga. Satu sungai lagi berlokasi di tengah-tengah desa. Ia membelah desa dari ujung perbatasan desa paling selatan hingga ujung perbatasan desa paling utara. Di tengah jalan, sungai itu bercabang ke barat menuju sawah-sawah. Untuk urusan olah raga ada sebuah Lapangan sepak bola di bagian timur desa yang berbatasan dengan sawah. Walaupun tidak selebar Lapangan San Siro milik klub Italia AC MILAN yang penting kami punya lapangan sepak bola. Yaah, daripada tidak punya!

Dalam bidang pendidikan di desa ini terdapat 2 sekolah dasar. Satu sekolah dasar Islam Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) dan satu lagi Sekolah Dasar Negeri Tunjungsari. Serta 2 Taman Kanak-kanak (TK); TK Bustanul Athfal (Muhammadiyah) dan TK Muslimat (NU). Dalam bidang keagamaan ada 2 Masjid besar; di RW satu atau bagian selatan ada Masjid As Sholihin yang merupakan masjid ormas Muhammadiyah dan di RW 3 atau bagian utara terdapat Masjid ormas Nahdlatul Ulama yang namanya Baitul Muttaqin. Sedangkan Mushollanya ada 15 buah dengan rincian Muhammadiyah memiliki 5 buah, Nahdlatul Ulama (NU) 7 buah dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) 3 buah.

Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah adalah sebuah sekolah swasta Islam yang di sana dulu aku mengenyam ilmu-ilmu dasar membaca, menulis, berhitung, menggambar, bernyanyi, berolah raga dan lain sebagainya. Membaca huruf-huruf alfabhet dari A sampai Z. Menulis huruf besar dan kecil serta huruf Arab baik latin ataupun gandeng yang seperti truk atau kereta api. Yang aku sendiri tidak tahu waktu itu dari mana huruf-huruf itu berasal dan siapa yang membuatnya? Berhitung angka-angka yang susah dari penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dalam pelajaran Matematika. Belajar menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan Mbah Wage Rudolf Soepratman serta lagu Gundul-gundul Pacul versi pop, keroncong sampai Rock.

Aku juga belajar menggambar peman-dangan dua gunung dengan jalan setapak di bawahnya diapit sawah di kanan dan di kiri serta di atasnya beterbangan beberapa burung Sruwiti ( burung kecil seperti burung walet yang jika terbang seolah tak pernah mengepakkan sayapnya dan seperti layang-layang putus saja). Gambaran itu teringat, terukir, tertanam dan terpahat jelas di memoriku hingga dewasa. Dan sewaktu aku di suruh menggambar pemandangan pada training MOTIVASI di Jakarta yang ku gambar ya persis seperti itu. Hingga sang Traineer menertawakan peserta yang menggambar pemandangan seperti itu. Bagaimana tidak di tertawakan? Yang namanya pemandangan itu kan tidak hanya pemandangan dua gunung dengan jalan setapak di bawahnya diapit sawah di kanan dan di kiri serta di atasnya beterbangan beberapa burung Sruwiti. Tapi bisa juga pemandangan itu adalah pemandangan malam dengan bulan purnamanya atau pemandangan SUNRISE dan SUNSET-nya yang sangat indah dan mengagumkan, bukan begitu? Atau yang lainnya. Lha ini dari kecil hingga dewasa bisanya gambar pemandangan, itu-itu saja!! Kapan majunya?

Di sana, di MIM itu juga aku diajarkan oleh Pak Mawardi guru olah raga asal Magelang yang tinggal di Petukangan, Wiradesa. Beliau senang memberi pelajaran Tenis Meja serta catur pada kami dan juga senam SKJ ( Senam Kesegaran Jasmani ) yang terus berseri seperti sinetron Tersanjung di Indosiar. Selain pelajaran Akademik aku juga diajarkan Ilmu-ilmu Agama Islam dari Sholat dengan syarat dan rukunnya hingga membaca dan menulis Alqur’an. Tak ketinggalan ilmu budi pekerti seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Kemuhammadiyahan.

Dan sewaktu di kelas 3 MI kutemui guru laki-laki yang jika mengajar suaranya bak mesin ISUZU PANTHER. Nyaris tak terdengar. Sehingga jika kami murid-murid diajar beliau dan duduk di belakang bersiap-siaplah untuk membuka daun telinga lebar-lebar supaya gelombang suara pak guru yang frekuensinya hanya 200 Hz itu tertangkap di telinga dan masuk ke otak kita.

Di kelas ini juga kepalaku pernah berdarah karena dibenturkan temanku ke dinding. Itu terjadi karena kebandelanku sebagai buah naluri kenakanlan anak laki-laki. Waktu itu aku berantem di kelas dengan sahabatku yang badannya lebih besar dari aku. Sehingga tubuhku yang kecil mudah saja baginya untuk dikalahkan.

Sedang waktu kelas 4 kami kemah TKA/TPA di Lapangan Api-Api, Wonokerto, Tingkat Kabupaten Pekalongan. Kami mewakili TKA/TPA Al-Himmah, Tunjungsari, Sragi dan waktu itu alhamdulillah kami juara UMUM 2. Aku sendiri alhamdulillah ikut menyumbangkan 2 gelar juara individu, juara 3 Lomba Baca Puisi Islami dan juara 3 Lomba Nasyid bareng saudaraku Saiful.

Aku juga diajarkan bagaimana caranya menghukum murid yang bandel, yang suka berisik dan kalau diperintah ia membantah. Pelajaran yang unik ini aku dapatkan dari Kepala Sekolahku yang usianya telah lanjut. Bahkan Ibuku sendiri katanya pernah diajarnya dulu. Hukuman itu adalah dengan menarik JAMBANG rambut anak yang bandel sehingga si anak menjerit kesakitan dengan keras seperti sedang belajar olah vokal do-re-mi-fa-sol-la-si-do-do-si-la-sol-fa-mi-re-do.

Di desa ini yang setiap hari jumat khususnya RT 06/01, ketua RT membunyikan TING (tiang listrik) dengan cara dipukul menggunakan batu untuk memanggil warganya supaya kerja bakti membersihkan jalanan dari rumput dan tanaman yang ranting-rantingnya menggangu jalanan dan menghambat aliran air di kalenan (saluran air). Dari anak kecil, remaja putra dan putri, ibu-ibu hingga bapak-bapak semua turun dan keluar dari rumahnya untuk ikut serta dalam kerja bakti. Yang bapak-bapak dan remaja putra membabat rumput dan ranting-ranting pohon. Yang ibu-ibu dan remaja putri menyapu sampah dan membakarnya serta ada yang menyiapkan minuman dan makanan. Sedang anak-anak ikut nimbrung membersihkan tapi kebanyakan hanya ikut bersenang-senang dan bermain karena kerja bakti memanglah ramai.

Semua warga begitu guyub dan rukun. Tak nampak bermusuhan. Walaupun kadang terjadi sedikit gesekan antar mereka namun hari itu adalah hari di mana setiap individu saling bahu membahu untuk menghasilkan lingkungan yang bersih dan asri. Dari jalan utama hingga jalan arteri yang menghubungkan antara gang yang satu dengan gang yang lain semua di bersihkan dan di rapihkan.

Setiap sebulan sekali, kami juga memandikan Musholla An Nurul Jannah. Satu-satunya musholla di Rt 06/01 desa Tunjungsari. Mengepel, menguras bak air selebar 3 meter x 1 meter, mencuci kambal/karpet musholla dan menjemurnya hingga kering dan membersihkan sawang/sarang laba-laba. Kami juga memperbaiki sasak/jembatan yang terbuat dari anyaman bambu ketika sasak tersebut mulai tercerai-berai.


Hari masih terang. Matahari juga belum memperlihatkan tanda-tanda akan terbenam. Tapi kambing-kambingku lari-lari. Ternyata ia terusik dan ketakutan dengan kedatangan kakakku yang lari menuju ke tempat di mana kambing-kambingku kugembalakan.

“Auu.....au.....au....., sikilku loro,” jeritku merintih.
“Kenopo Ibnu?” tanya kakakku.
“Sikilku kejiret tali sing nggo naléni wedus iki lo mas!” jawabku singkat.
“Yo wis kowé muléh rono kon simak kowé kon mangan sék, karo sekalian di obati, lha wedusé genténan aku sing angon!” kata kakakku yang ke 6 menjelaskan maksud kedatangannya.
“Iyo kang aku arep muléh, tapi sikilku loro nggo mlaku angél!”
“Alah loro semono bé, cah lanang loro koyo kuwi nggo tombo otot. Ra popo-ra popo!” kakakku mengejekku.
Dan bekas tali itupun hingga kini masih membekas di pergelangan kaki kananku.

No comments:

Post a Comment

Sahabat katakan sesuatu untuk dasir..perkataanmu kan memotivasiku untuk terus berkarya...

Related Post

Related Posts with Thumbnails